Kota Gorontalo, OPINI — Menjadi pemimpin itu bukan perkara mudah, ia harus bertanggungjawab atas apa yang dilakukan. Lebih dari itu, seorang pemimpin harus memahami lika-liku dinamika persoalan daerah bahkan nasional.
Itulah sebabnya pemimpin harus berpengetahuan luas, kepribadian baik, tutur katanya sopan sehingga bisa dijadikan teladan oleh rakyatnya.
Berikut catatan penting ‘kesalahan’ Walikota Adhan Dambea dimata publik yang berhasil dirangkum media ini:
Tidak lebih baik dari Marten Taha
Nama Marten Taha sampai saat ini terus dirindukan warga Kota Gorontalo, apalagi saat ini gaya kepemimpinan Walikota Adhan Dambea berbeda jauh dengan si tampan Marten Taha.
Marten Taha dirindukan karena bisa dijadikan teladan, pernyataan Marten Taha sewaktu menjabat Walikota tidak pernah melukai rakyatnya.
Tidak pernah memaki rakyatnya, ASN tidak mengalami tekanan psikologis karena Marten Taha pemimpin yang tenang tidak emosional.
Makanya rakyat Kota Gorontalo masih merindukan Marten Taha ditengah keadaan Kota Gorontalo yang dinilai kacau seperti tak ada yang mengurusi saat ini, Marten Taha dinilai masih lebih baik dari Adhan Dambea dalam memimpin Kota Gorontalo.
Polemik Jalan Palma
Jalan strategis dengan tingkat kerusakan parah berada di kawasan/kompleks Rumah Walikota Adhan Dambea. Walikota menuding jalan Palma milik dan menjadi tanggungujawab Pemerintah Provinsi Gorontalo.
Namun, setelah diceramahi Tenaga Outsourcing Dinas PUPR Pemerintah Provinsi Gorontalo, akhirnya Pemerintah Kota Gorontalo menganggarkan perbaikan Jalan Palma Tahun 2026 ini. Artinya, Walikota mengakui Jalan Palma milik Pemerintah Kota Gorontalo.
Berkata Kasar
Gorontalo merupakan Bumi Serambi Madinah, semua pemimpin wajib jadi teladan rakyat, mulai dari cara memimpin sampai pada tutur kata yang bisa diteladani.
Walikota Gorontalo, Adhan Dambea saat memimpin pernah terlihat dan terdengar mengeluarkan kata-kata kasar bahkan makian di depan umum. Ini merupakan potret buruk dari seorang Kepala Daerah, bahkan Walikota pernah mendapat makian dari rakyatnya sendiri.
Polemik Bank Sulutgo (BSG)
Aksi unjuk rasa (demo) karena diduga gagal dapat pinjaman dari Bank BSG. Aneh bin ajaib, setelah gagal mendapat pinjaman dana Rp. 40 Miliar oleh Bank BSG sebagaimana diungkapkan oleh salah satu Komisaris BSG.
Walikota melakukan aksi demonstrasi di Kantor BSG Gorontalo meski Pemerintah Kota sendiri masih terhitung sebagai pihak pesaham. Perilaku lucu, pemikiran tak mampu mencapai tujuan, aksi demo dilakukan.
Gelar ‘Bapak UMKM’
Pemberian gelar ‘Bapak UMKM’ yang belum layak. Ini dianggap sebagai kekhilafan DPRD Kota Gorontalo yang mengabaikan keberadaan Wakil Gubernur Idah Syahidah yang jauh sebelumnya lebih berperan untuk pelaku UMKM sejak menjabat Anggota DPR RI Periode 2019-2024.
Anehnya, Walikota pun menerima gelar itu sementara dirinya pernah mengusir pedagang di TPI Tenda beberapa waktu lalu.
Kesalahan Walikota dimata publik akan terus dipublikasi media ini sebagai bagian dari pengawasan di negara yang menjunjung tinggi asas keterbukaan dan demokratisasi.









