Gorontalo – Kemunculan kembali sosok misterius yang dikenal dengan sebutan “Kolor Ijo” menimbulkan ketakutan di kalangan masyarakat Kabupaten Bone Bolango dan sekitarnya, terutama para penghuni kos-kosan perempuan.
Sosok ini diduga melakukan aksi teror dengan cara mengintai bahkan mencoba masuk ke pemukiman warga secara diam-diam, terutama di malam hari.
Ketegangan turut dirasakan pemilik kos yang enggan disebutkan namanya sekitar Bone Bolango Gorontalo.
Ia mengungkapkan bahwa beberapa penghuni kosnya telah menyampaikan keluhan dan rasa trauma akibat isu ini.
“Bagi saya pribadi, mendingan dia (Kolor Ijo) itu di sel saja. Karena dia sudah membuat warga Gorontalo tidak nyaman, terlebih untuk Bone Bolango. Banyak anak-anak kos yang trauma, bahkan ada laporan masuk dari penghuni kos saya sendiri,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa pelaku kerap muncul di malam hari dan mengintai rumah masyarakat sehingga membuat tuan kos-kosan perempuan resah, bahkan menimbulkan ketakutan hingga gangguan psikis.
Sebagai langkah antisipasi, pemilik kos tersebut terus mengingatkan penghuni kos untuk lebih waspada.
“Saya selalu ingatkan anak-anak kos agar saling jaga dan jangan panik. Kita harus kompak menjaga satu sama lain,” lanjutnya.
Salah satu penghuni kos di kawasan Kampus 4 Universitas Negeri Gorontalo, Firgin, juga mengaku merasa tidak tenang sejak isu ini merebak.
“Saya cukup takut, karena kan saya cuma ngekos sendiri. Takutnya dia masuk ke kos saya,” ungkapnya.
“Setelah isu ini saya sudah jarang pulang larut malam, dan selalu cek apakah pintu kamar sudah ditutup. Takutnya kelupaan, dan dia masuk,” tambah Firgin.
Kekhawatiran serupa juga diungkapkan Mirnawati, mahasiswa yang tinggal di Kos area Bone Bolango.
Ia menyebut bahwa situasi semakin mencekam karena saat ini banyak kos-kosan yang sepi ditinggal penghuninya mudik.
“Sebagai mahasiswa yang masih tinggal di kos-kosan karena harus menyelesaikan beberapa urusan, kami merasa cemas dan takut untuk beraktivitas. Mengingat kos-kosan ini sekarang sepi, hanya dihuni oleh sedikit orang,” katanya.
Mirna juga menekankan pentingnya sikap waspada dan tidak lengah.
“Tentu perlu adanya kewaspadaan dan lebih berhati-hati. Kami bahkan menjadi takut keluar malam hari, bahkan sekadar ke warung depan saja rasanya sudah was-was,” tambahnya.
Masyarakat berharap aparat penegak hukum segera menindaklanjuti isu ini secara serius untuk mengembalikan rasa aman, terutama bagi warga dan mahasiswa yang tinggal sendiri di kos-kosan maupun rumah kontrakan.
Penulis : Nunu









