GORONTALO — Sebelas anak muda Gorontalo membawa semangat baru ke Seleksi Tilawatil Qur’an dan Hadits (STQH) Nasional XXVIII di Sulawesi Tenggara. Mereka bukan sekadar peserta lomba, tetapi wajah muda Gorontalo yang menegaskan identitas daerah Serambi Madinah di tengah derasnya arus budaya digital.
Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail melepas keberangkatan mereka di Rumah Jabatan Gubernur, Selasa (7/10/2025). Ia menekankan agar para peserta tampil santun, berakhlak, dan percaya diri saat membawa nama daerah di tingkat nasional.
“Saya ingin mereka tidak hanya mengejar medali, tapi menunjukkan siapa kita sebagai masyarakat Qur’ani,” tegas Gusnar di hadapan kafilah muda tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Sebelas peserta itu akan berkompetisi di berbagai cabang, mulai dari tilawah, hafalan Al-Qur’an, hafalan Hadits, hingga karya tulis ilmiah Al-Qur’an. Mereka menjalani latihan intens selama dua bulan di bawah bimbingan pelatih profesional yang memperkuat tajwid, fashahah, penguasaan lagu, dan mental bertanding.
Ketua Umum LPTQ Gorontalo, Budiyanto Sidiki, menjelaskan bahwa pelatihan tahap akhir berlangsung dari 29 September hingga 2 Oktober, dengan fokus pada pemantapan teknik dan mental.
“Kami ingin melahirkan generasi Qur’ani yang disiplin, tangguh, dan berkarakter, bukan hanya fasih membaca Al-Qur’an,” ungkapnya.
Keberangkatan kafilah ini juga mencerminkan gerakan kebangkitan spiritual anak muda Gorontalo. Di tengah tren digital yang sering menjauhkan generasi muda dari nilai agama, mereka hadir sebagai contoh bahwa teknologi dan spiritualitas bisa berjalan beriringan.
Gusnar memuji pembinaan berjenjang yang dilakukan Kanwil Kemenag dan LPTQ Gorontalo, yang terbukti melahirkan qari muda berprestasi nasional. Gorontalo sendiri memiliki catatan membanggakan: pada STQH Nasional 2019 di Pontianak, kafilahnya meraih Terbaik II Nasional di cabang hafalan 100 Hadits bersanad, dan torehan itu berlanjut di Sofifi pada 2021.
Bagi Gusnar, partisipasi anak muda dalam ajang keagamaan ini bukan hanya soal lomba, tetapi bentuk nyata regenerasi moral di Gorontalo.
“Lewat mereka, semangat Serambi Madinah tetap menyala. Nilai-nilai Qur’ani harus menjadi napas kehidupan masyarakat kita, terutama generasi muda,” tutupnya.
Penulis : Putri











