GORONTALO – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh salah satu mahasiswa Universitas Negeri Gorontalo. Alya Marwa Kobandaha, mahasiswi Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra dan Budaya, berhasil meraih juara tingkat nasional dalam lomba penulisan cerpen yang digelar secara daring.
Gadis kelahiran 13 Juni 2005 asal Desa Sangkub 2, Kecamatan Sangkub, Kabupaten Bolaang Mongondow Utara, Sulawesi Utara ini mengaku bahwa keikutsertaannya bermula dari rasa iseng, saat dirinya ditandai oleh seorang teman di kolom komentar Instagram.
“Awalnya cuma iseng ikut karena lombanya gratis dan terbuka untuk umum. Niatnya cuma cari e-sertifikat, karena pernah juga bilang ke teman mau kumpulin sertifikat. Tapi sekalian juga untuk mengasah kemampuan menulis,” ujar Alya kepada media ini pada Selasa (17/6/2025).
Alya memang memiliki minat besar di dunia tulis-menulis. Ia bahkan memiliki akun Wattpad pribadi tempat ia menyalurkan berbagai ide ceritanya.
Ketika mengikuti lomba ini, Alya mengangkat judul cerpen “Janji Tanpa Tanda Tangan” yang ia tulis sebagai bentuk refleksi dari tema lomba Janji, Bukti, dan Setia.
“Cerpen ini ingin menyampaikan bahwa tidak semua janji harus secara resmi atau ditandatangani. Janji tanpa tanda tangan pun bisa menjadi bukti kesetiaan yang paling kuat,” jelasnya.
Dari lomba tersebut, Alya berhasil menyabet penghargaan berupa uang tunai, piala, satu antologi cerpen, sertifikat juara, serta sertifikat penulis terpilih yang karyanya dibukukan.
Meskipun kini berhasil meraih juara nasional, Alya mengaku tidak menyangka akan menang karena merasa tidak percaya diri dengan karyanya sendiri.
“Sebenarnya tidak ada ekspektasi menang. Saya ikut hanya untuk e-sertifikat. Jadi waktu diumumkan menang, rasanya campur aduk antara senang dan bingung,” ungkapnya.
Perempuan 20 tahun ini mengaku bahwa pencapaiannya tidak lepas dari dukungan orang-orang terdekat.
Salah satu yang paling berjasa, katanya, adalah teman bernama Westin, yang pertama kali membagikan info lomba tersebut.
Ia juga menyebut nama Pak Gusman dosen yang pernah memuji karyanya saat di kelas, serta dukungan dari orang tua dan teman-teman yang selalu memberi semangat.
Sebelumnya, Alya juga sempat mengikuti lomba menulis saat duduk di bangku SMK, yang ia ikuti lewat grup Facebook penulis, meski belum pernah ada lomba semacam itu yang diselenggarakan secara resmi di sekolahnya.
Kisah Alya menjadi bukti bahwa kreativitas, meski berawal dari niat sederhana, bisa membawa seseorang pada prestasi luar biasa.
Dengan semangat dan konsistensi menulis, Alya telah membuktikan bahwa karya sastra anak muda juga bisa bersinar di tingkat nasional.
Penulis : Yolanda Tangahu









